Minggu, 31 Desember 2017

Sasak Tulen Mulen Maik Meton

                                                  
                                                PIAGAM GUMI SASAK 




Seiring dengan perkembangan zaman, kebudayaan umat manusia pun  terus mengalami perubahan. Tidak dapat dipungkiri juga,  Sasak yang dulunya kental dengan tradisi, adat istiadat, dan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang  suku Sasak sedikit demi sedikit terus mengalami pergeseran, sehingga nilai-nila keaslian atau nilai leluhur dari kebudayaan yang dulu sudah mengalami perubahan, bahkan banyak masyarakat  Sasak sudah memandang buruk budaya  sendiri.  Berangkat  dari permasalahan itu,  para intelktual Sasak baik muda maupun tua terus berfikir tentang cara untuk mengembalikan Sasak yang dulu. Proses pemikiran dan diskusi yang panjang sehingga terciptalah sebuah dokumen yang merupakan identitas suku Sasak yang di kenal dengan nama  piagam gumi Sasak.

Piagam Gumi Sasak ini Lahir dari diskusi yang panjang dari beberapa intelektual sasak yang memiliki perspektif budaya ke depan, dalam diskusi yang panjang ini terjadilah berbagai bentuk kajian yang panjang dan inilah yang menjadi tonggak awal lahirnya piagam gumi sasak. Setelah perjalanan kajian yang panjang,  kira-kira pada tanggal 17 Agustus  2015 diadakan acara launching  buku yg berjudul “Membaca Arsiktektur Sasak” karya Drs. HL. Agus Fathurrahman, buku inilah yg menjadi awal kesadaran dari tokoh-tokoh intelektual Sasak, bahwa suku Sasak memililiki khzasanah ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi sejak masa lalu. Sebelumnya para pakar budaya Sasak sudah menghasilkan satu monumen peradaban yaitu kajian astronomi  tradisi  yang melahirkan sistem penanggalan Sasak yang dikenal dengan Kalender Rowot Sasak pada tahun 2014.  





                                         BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.

Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.

Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:   Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:       Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:       Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:  Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima:      Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
                                    
                                                       Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H 26 Desember 2015

Penandatangan dalam Piagam Gumi Sasak:
1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz, M.A. Ph.D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin, M.Ag.
8. Dr. H. A. Muhit Ellepaki, M.Sc.
9. Dr. Lalu Abd. Khalik, M.Hum.
10. Dr. H. Sudirman, M.Pd.
11. Dr. HL. Agus Fathurrahman
12. Mundzirin, S.H.
13. Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd.

                                                 Nara sumber :
                                           1. Bapak Sadaruddin
                                           2. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd

22 komentar:

  1. Lombok memang memiliki vanya sekali budaya dan tradisi. Jadi kita sebagai orang sasak dan yang tinggal di sasak tetap lestarikan dan menjaga budaya-budaya itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya semoga pemuda-pemudi sasak bisa menjaga, melestarikan, menjadi penerus, dan tidak melupakan budayanya.

      Hapus
  2. Ayo kita lestarikan budaya kita agar tetap terjaga.

    BalasHapus
  3. Informasi yang bermanfaat. Tetap semangat melestarikan budaya !

    BalasHapus
  4. Sngat bermanfaat. Tetap lestarikan budaya kita agar tetap terjaga.

    BalasHapus
  5. Sangat menambah wawasan pembaca.

    BalasHapus
  6. Semoga dengan adanya piagam ink bisa lebih menumbuhkan kecintaan dan kepedulian kita pada budaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiiinnnnnnn....
      dan semoga kita sebagai generasi muda bisa menjadi penerusss untuk melestarikan kebudayaan yang kita punya :)

      Hapus
  7. Semoga semuanya bisa terealisasi .. semangat pemuda pemudi sasak

    BalasHapus